Islam & Desain Residensial: Masih Kenalan

source Tulum Treehouse

Di postingan sebelumnya udah dijelaskan tentang latar belakang pemilihan topik desain residensial dalam kacamata Islam. Kita juga udah kenalan dengan salah satu usaha untuk mencoba menginterpretasikan ajaran dan nilai islam dan tiga prinsip dasar yang bisa jadi rujukan untuk pengaplikasian desain secara konkret. (Please read the disclaimer, though).

Jujur waktu saya nulis introduksi kemarin, saya belum sama sekali bikin mindmap atau bahkan nulis kerangka tentang apa yang mau saya tulis ke depannya. Yang saya tahu waktu itu bahwa nilai-nilai dasar tersebut bisa saya pilih secara acak untuk selanjutnya saya cari referensi pengaplikasian desainnya. Boy, oh boy, tetep aja kalo mau nulis mesti ada perencanaannya ya, karena setelah itu saya bingung mesti mulai darimana HA.

Alhamdulillah saya punya temen-temen yang sangat membantu dan mendukung proses penulisan topik ini (belum apa-apa udah bikin paragraf ‘thanks to’). Sekarang saya udah punya mindmap kasarnya! Dan ternyata saya harus menjelaskan lebih jauh lagi tentang tiga prinsip dasar dalam perencanaan rumah tinggal yang masih saya ambil referensinya dari paper ini. Please be patient 🙂

Sebelum lebih jauh lagi, dari berbagai sumber yang saya baca (saya tulis link referensinya di bawah), perlu diperhatikan bahwa Islam yang sering dianggap asing oleh banyak orang ini sebetulnya lebih dekat dan lebih mendekatkan kita dengan lingkungan kita sendiri. Dalam usaha saya mencari desain yang formulanya pasti dan bisa diaplikasikan dimana aja, Islam justru menyuruh saya untuk; stop and look around! Islam nggak menjauhkan kamu dan mengasingkan kamu dari lingkungan kamu sendiri. Islam justru punya nilai untuk melihat dan mengeksplorasi lingkungan yang ada di sekitar kamu. Memang, rumah yang nggak memiliki nilai-nilai islam nggak bisa dikatakan rumah yang islami; tapi rumah yang tidak memedulikan lingkungan sekitar, termasuk iklim, tradisi, teknologi, dan ekonomi, rumah tersebut juga nggak bisa dikatakan rumah islami.

source Remodelista

Ada tiga prinsip dasar yang saya jadikan rujukan untuk membangun dan merencanakan sebuah rumah tinggal berdasarkan paper yang saya cantumkan linknya di atas. Ketiga prinsip tersebut adalah privacy, modesty, dan hospitality. Di bawah ini saya mau menjelaskan apa maksud dari ketiga prinsip tersebut.

PRIVACY

Poin ini jelas punya peranan penting, sebab bahkan dalam kehidupan personal seorang muslim sehari-haripun prinsip ini ada dan dipraktikan. Contohnya batasan-batasan tubuh perempuan dan laki-laki yang nggak boleh dilihat oleh orang lain selain diri sendiri dan beberapa anggota keluarga, atau seorang anak nggak boleh masuk ke kamar orang tuanya tanpa izin, dan sebaliknya. Nah, Bahammam (1987) dan Mortada (2011) bahkan mengatakan kalau privasi dalam sebuah rumah tinggal islami tradisional dibagi jadi empat lapis; privasi rumah tangga, privasi antar perempuan dan laki-laki, privasi keluarga, dan privasi individu.

Lapisan privasi ini dalam praktiknya bisa kita lihat di layout atau denah rumah tinggal. Dari depan ke belakang, biasanya tingkat lapisan privasinya makin mengerucut ke privasi individu. Sebagai contoh, privasi antar rumah tangga bisa berupa halaman depan yang memisahkan antara jalan dan rumah, sedangkan mulai dari teras, foyer, dan ruang tamu sudah bisa masuk ke kategori privasi untuk tamu perempuan dan/atau laki-laki. Lapisan selanjutnya adalah privasi keluarga yang bisa berupa ruang keluarga, dapur, dan ruang makan. Semakin mengerucut ke privasi individu, berupa kamar dan kamar mandi.

Nah antar masing-masing privasi ini sebaiknya memang ada semacam akses tertentu atau pemisah yang jelas. Gampangnya, privasi ini berarti tamu-tamu yang datang nggak punya akses untuk melihat apa yang ada di area privat keluarga. Makes sense, dong? Apalagi buat perempuan-perempuan yang pakai hijab, jadi nggak perlu pakai hijab dulu kalau ada tamu ayah yang datang.

Berdasarkan elemen desain, privasi juga punya bagiannya masing-masing, yaitu di elemen visual, elemen akustik, dan elemen indera penciuman.

Dalam penerapan elemen visual, di rumah-rumah tradisional Saudi Arabia, jendela-jendela di bagian depan rumah biasanya hanya berbentuk persegi dengan ukuran kecil yang letaknya agak lebih tinggi dari manusia. Hal ini berdasarkan pertimbangan untuk menjaga privasi agar tetangga-tetangga di rumah lain maupun orang luar nggak bisa dengan mudah melihat apa yang ada di dalam rumah, termasuk untuk menjaga para perempuan dari apa yang bisa dilihat oleh orang asing. Tapi lewat jendela itu pula, orang yang ada di dalam rumah masih tetap bisa melihat keadaan di luar rumah.

Contoh lainnya dalam perenapan pembatasan antara dunia luar dan anggota keluarga di dalam rumah di Timur Tengah adalah pengaplikasian innercourt/courtyard.

Penerapan privasi dalam elemen akustik di perencanaan rumah tinggal bisa berupa double wall. Sedangkan dalam elemen indera penciuman adalah penggunaan pengharum ruangan dalam berbagai macam bentuk. More on that later!

source tchaikana.com

MODESTY

Dibagi menjadi internal dan eksternal, modesty memiliki arti literal yang berbeda antara keduanya.

Modesty dalam penerapan rumah tinggal bagian eksternal berarti kesederhanaan yang bisa langsung dilihat oleh orang yang ada di luar. Maksudnya, dalam perencanaan dan pembangunan rumah tinggal, prinsip kesederhanaan dan nggak bermewah-mewah ini yang mesti ditonjolkan. Di era sekarang sebetulnya kita bisa dengan bebas untuk menentukan model rumah seperti apa yang mau kita bangun (kecuali kalau kamu tinggal di komplek yang desain rumahnya sama semua). Di sini, islam juga mengingatkan kita untuk menyesuaikan budaya yang ada dan kondisi lingkungan dimana kita tinggal. Material seperti apa yang nggak berdampak negatif ke lingkungan? Budaya seperti apa yang ada di sekitar kita? Solusi-solusi apa yang sudah diterapkan oleh orang-orang terdahulu dalam menjawab tantangan alam di masing-masing daerah? Bener gak sih rumah tinggal vernakular atau rumah-rumah adat tuh sebetulnya punya nilai budaya dan lingkungan yang jauh lebih tinggi dari rumah-rumah modern yang ada saat ini?

source d-s-style.com

Sedangkan dalam penerapan internal, modesty ada di hubungan kita dengan Allah, serta usaha kita sebagai muslim dalam mempertahankan dan menjaga nilai-nilai islam dalam bentuk edukasi. Contoh konkretnya seperti mushala dan ruang belajar.

Islam juga nggak melarang kita untuk mendekorasi ruangan kok, cuma pertanyaannya adalah dekorasi apa yang seharusnya kita pilih dan terapkan di dalam rumah? Beberapa pasti udah tau jawabannya.

HOSPITALITY

Hospitality, atau terjemahan literalnya sebagai keramahtamahan, ada sebagai prinsip dalam menguatkan hubungan kita dengan masyarakat. Etika menjamu tamu juga diatur oleh islam.

Di rumah tinggal, pertimbangan prinsip ini juga nggak kalah penting dan bisa dilihat secara langsung lewat denah rumah tinggal. Secara bersamaan, penerapan prinsip ini sejalan dengan prinsip privasi. Dalam menjamu tamu, seenggaknya ada tiga kategori area yang harus dipisahkan, yaitu area publik, area semi-publik, dan area privat.

Area publik biasanya ada di paling depan dan punya akses langsung dari jalan dan gerbang masuk utama. Area ini diperuntukkan buat tamu laki-laki. Penerapannya secara tradisional juga berbeda di masing-masing daerah. Misalnya di Timur Tengah terdapat area khusus untuk menjamu tamu laki-laki, sedangkan di Malaysia yang cenderung lebih terbuka dengan kedekatan komunitas, tamu-tamu yang khususnya laki-laki ini diterima di bagian serambi.

Area semi-publik adalah area untuk tamu-tamu dan teman-teman perempuan. Penerapannya juga berbeda antar budaya dan daerah.

Sementara itu area privat dikhususkan untuk tamu-tamu yang merupakan keluarga. Area ini biasanya ada untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan kumpul-kumpul, makan bareng, atau kegiatan-kegiatan hiburan.

source archdaily

Dari penjelasan ketiga prinsip di atas, kita pasti udah punya gambaran secara garis besar mengenai karakter dari rumah yang punya nafas islami. Meskipun begitu, saya merasa kayaknya akan lebih jelas kalau setiap poinnya, atau bahkan setiap penerapan poinnya, dibuat bahasan tersendiri yang lebih fokus.

Oleh karena ituuuu, nggak bisa selesai dengan satu post aja!

Di postingan berikutnya saya akan langsung membahas referensi-referensi dan contoh konkret dari poin-poin di atas. Kalau temen-temen punya preferensi dan ingin lebih tau tentang salah satu poin yang ada, boleh lho tulis komentarnya di bawah atau kontak saya langsung. Rencananya saya akan mulai dari bagian depan rumah tinggal sampai ke belakang. However, I’m sure there are a lot of better ideas out there about where to start, so I am open for discussions!

I hope this post would be beneficial for any of you. Please take only the good thing(s) from this writing.

See you!

Referensi: islamicity.org, medinanet.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *