Apa Gunanya Pintar

Lucu ya, cara orang menghadapi patah hati. Jadi inget dulu waktu lagi agak kurang waras, saya juga banyak melakukan hal-hal yang kalau diinget-inget lagi sekarang sih bikin malu sendiri haha. Akhir-akhir ini saya nemuin seseorang yang mungkin gara-gara patah hati juga, dia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia worth it dengan cara berbicara dengan lantang bahwa dirinya adalah wanita pintar, membaca banyak buku, datang dari keluarga intelek, dan lain-lain. Ya, nggak apa-apa, sih. Cuma saya jadi mikir lagi, melihat diri saya sendiri, melihat dunia ke depannya bakal kayak gimana; emang dunia ini butuh orang-orang (yang merasa) pintar karena udah banyak baca buku dan merendahkan orang lain karena nggak melewati proses intelektual yang sama dengan dia? Kepuasan apa sih yang dicari?

Continue reading “Apa Gunanya Pintar”

Bukaan, Lebih dari Jendela

the modern house laura fulmine television centre
Interior Design by Laura Fulmine
© The Modern House

Setiap ketemu sama temen-temen yang konsultasi tentang desain interior rumahnya, saya kayak dapet klien baru yang familiar. Saya seneng denger temen-temen dan rencananya buat renovasi rumah mereka atau bikin rumah baru. Dengan mudahnya akses terhadap informasi, sekarang banyak banget temen-temen yang udah punya referensi sendiri tentang konsep rumah idealnya masing-masing. Tau, lah, sekarang yang ngetren pasti rumah-rumah yang fasadnya minimalis dan interior skandinavia.

Dari semua hal yang mereka konsep sendiri itu, tentang dimana letak kamar atau parkiran, atau keramik warna apa yang mau dipasang di kamar mandi, yang saya selalu tekankan ketika ngobrol soal ini cuma satu; bukaan untuk cahaya dan udara. Beneran deh, ketika kamu masuk ke tahap bagi-bagi jatah ruangan, bukaan adalah faktor besar yang harus dipertimbangkan.

Emang segitu pentingnya, ya, bukaan buat rumah? Efeknya apa aja?

Continue reading “Bukaan, Lebih dari Jendela”

A Familiar Stranger

A finger tapped on my shoulder. Standing beside me is a woman waiting for a bus. She looked down and said my shoelaces are off.

The way she said it, soft and stern. She sent off the scent of jasmine and vanilla, and I knew it was Chanel No.5. I glanced at her one more time and she smiled. The wrinkles on her under-eyes brought me back to something, so I glanced at her once again.

She said do I want to taste her handmade sandwich, I said sure. She said she put avocado in it and if I don’t like it that’s understandable. I said I do like avocado. Actually, I don’t.

Her bus arrived. Farewell she bid as she complimented my short hair.

I was surprised by my own reply, “Thanks, mom.”

M.A.

Sepia is the Color

Time wasn’t there when your pair of brown eyes locked into mine, between chirping of the birds and orange lights pouring over crooked parquet.

I felt the happiest and it felt like forever. I promised this to you, when you were asleep, or when you went to the kitchen to cook pasta enough for two; my dear, forever is overrated but we live inside it. 

That afternoon, you said we live in a space where time doesn’t exist. You said if I heard a bird chirping, I should just think that it is you. Same goes with the smell of long black, or the sound of leaves brushing against each other, or when your pillow turns cold. I should just think it is still you.

But your pillow was always as warm as your fingertips.

Tonight was the first time I checked the temperature of your pillow, it was cold, and the lights were off, and I felt empty. I should just think there is still you.

If time doesn’t exist, where are you sleeping right now?

M.A.