Apa Gunanya Pintar

Lucu ya, cara orang menghadapi patah hati. Jadi inget dulu waktu lagi agak kurang waras, saya juga banyak melakukan hal-hal yang kalau diinget-inget lagi sekarang sih bikin malu sendiri haha. Akhir-akhir ini saya nemuin seseorang yang mungkin gara-gara patah hati juga, dia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia worth it dengan cara berbicara dengan lantang bahwa dirinya adalah wanita pintar, membaca banyak buku, datang dari keluarga intelek, dan lain-lain. Ya, nggak apa-apa, sih. Cuma saya jadi mikir lagi, melihat diri saya sendiri, melihat dunia ke depannya bakal kayak gimana; emang dunia ini butuh orang-orang (yang merasa) pintar karena udah banyak baca buku dan merendahkan orang lain karena nggak melewati proses intelektual yang sama dengan dia? Kepuasan apa sih yang dicari?

Saya nggak menafikkan kalau membaca adalah kegiatan yang emang bikin ilmu kita bertambah, kok. Meskipun outputnya saya yakin beda-beda. Ada yang setelah baca merasa mengerti tentang apa yang terjadi di dunia, ada juga yang justru semakin nggak ngerti bagaimana dunia bekerja. Tapi hidup yang kita jalani adalah dunia dengan banyak dimensi, kita nggak lagi hidup sebagai tokoh utama di lembaran buku, kan? Saya pernah denger juga dari seseorang yang saya lupa siapa, banyaknya buku yang dibaca nggak selalu berbanding lurus dengan pinternya kita menjalani hidup. Hidup kita nggak seidealis yang ada di buku.

Jangan dianggap saya anti-buku ya haha orang saya suka baca buku juga. Maksudnya ketika kita baca banyak buku dan berbagai sumber lainnya, bukannya lebih bijak kalau kepintaran itu juga dibarengi dengan empati, ya? How to really live a life, with its ups and downs, with all of its complexity and chaos.

Sebetulnya paragraf di atas adalah pesan ibu selama ini untuk saya. I used to be that kind of person. Shallow AF. Condescending, mungkin. Jadi ya, saya ngerti kenapa manusia bisa kayak gitu. Nyebelin banget. Saya kayak lihat diri saya waktu remaja. Sekarang semoga nggak, ya. Ha ha h a.

Anywaysss, sebenernya isu itu udah lewat sih. Jauh di fase kehidupan saya yang dulu. Cuma inget lagi karena saya nemuin kasus yang sama akhir-akhir ini. Sekarang pertanyaan yang saya lagi coba cari jawabannya dan pengaplikasiannya adalah,

apa sih gunanya ilmu dan kecerdasan yang kita punya kalau kita nggak ngasih manfaat buat orang lain?

Pembahasannya bakal panjang banget. Saya berharap juga bisa cerita di platform ini karena… ya saya seneng aja nulis haha. Kangen banget nulis blog. Btw, sekarang susah nyari orang yang nulis blog. Padahal dari tulisan kita bisa lihat perspektif yang baru dari orang lain.

Balik lagi, pertanyaan tadi saya sangkutin aja sama hadits Nabi Saw yang bunyinya ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain’. Kan bukan ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling pintar di antara orang lain’.

Jadi saya yakin banget, sebetulnya ukurannya bukan berapa banyak buku, atau berapa banyak ilmu yang kita punya, tapi lebih ke seberapa besar manfaat yang kita kasih buat orang lain. Nah, kalau tujuan utamanya memberikan manfaat kan jadi bikin semangat buat nambah ilmu lagi, ya. A never-ending circle, yet creates a bigger ripple.

Ada sepenggal kalimat lain yang juga senada sama prinsip ini (saya nemu di Twitter) (makasih, Twitter); kalau udah mendapat banyak ilmu, coba bagi ilmu itu dengan bahasa yang sederhana supaya ilmunya nggak eksklusif.

Eh, tapi harus tetep rajin baca buku ya!

Ya udah, gitu. Maaf, ya, post ini diawali dengan nyinyir. Tapi kan akhirnya malah bikin semangat mikir buat nulis lagi hahaha.

Yuk empati yuk.

3 Replies

  • Kak, sama banget sama yang aku rasain. kangen dan ngerasa kehausan sama orang-orang yang nulis blog. karena dari situ kita bisa tau lebih banyak perspektif dan pendapat orang tentang suatu hal. cuma masalahnya adlaah, sekarang kebanyakan orang lebih suka aktif di instagram karena yaa lebih dapat spotlight gt. entah ini termasuk julid, nyinyir atau apalah ya, tapi poin aku bukan ke situ. cuma aku ngerasanya orang lebih aktif di twitter itu karena lebih “keliatan” dibandning ngeblog. paling ya sekarang merambah juga vlogging. huhuhu makanya aku suka bacain blog kakak dan beberapa blogger lain yg masih aktif. dulu aku lebih sering jd silent reader, tapi sekarang aku lebih aktif komen supaya penulisnya tau masih ada yang antusias sama tulisan-tulisannya. keep blogging ya kaaak.

    oiya, soal buku dan orang pintar, kalau yg aku rasain, ketika kita makin banyak baca buku orang-orang akan melihat kita lebih pintar atau berwawasan luas, tapi justru orang yang banyak baca buku itu semakin merasa kekurangan ilmu, karena semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pengetahuan baru yang kita dapat dan merasa “ya ampun gue baru tau tentang ini” dll. itu sih kalau yg aku rasain. jadi mungkin benar, orang yang semakin berilmu itu semakin rendah hati. karena dia semakin sadar masih banyak ilmu/pengetahuan lain yang mungkin saja belum ia ketahui.

    Have a nice day, Kak. Hehe

    • Mayaaa, thanks a lot! I really appreciate it when someone took their time to post a comment because it feels like I’m not talking to a wall haha. Right, right! Semakin kita tau, semakin kita nggak tau (????). Btw, kalau kamu punya list blog orang-orang yang masih aktif boleh dong drop di sini biar aku ikutan mampir juga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *